Kategori
Siantar

Nanya Gaji Hampir 2 Tahun Belum Dibayar, Jukir Bermarga Silaen Malah Dipecat

SIANTAR- Raut kesedihan tergurat di wajah juru parkir (jukir) dishub siantar berinisal TMS (49) Warga Kelurahan Martimbang, Kota Siantar yang mana akibat dirinya menanyakan gaji (bagi hasil) 46% tiap bulannya selama hampir 2 tahun yang belum dibayar dishub siantar malah  kena pecat.

Saat diwawancarai wartawan ini Minggu (4/8/2019) di Jalan Merdeka Kota Siantar, juru parkir (jukir) berinisial TMS (49) mengaku semenjak Januari 2018 dishub siantar menaikkan setoran jukir 100% dan  memberlakukan bagi hasil 46%-54% tiap bulannya tak sekalipun TMS menerima bagi hasil yang dijanjikan dishub siantar.

” Sudah 20 bulan atau hampir 2 tahun saya belum pernah menerima bagi hasil 46% yang dijanjikan dishub siantar bang, bahkan kalau saya minta gaji saya, saya malah diancam pecat,” kata pria ini yang mengaku sudah 15 tahun bekerja sebagi jukir dilokasi tersebut.

Diceritakannya, berawal dari TMS dan seorang temannya mendatangi kantor dishub siantar Senin 22/7/2019 untuk menanyakan gaji (bagi hasil) 46% tiap bulannya yang sudah hampir 2 tahun belum pernah ia terima. Namun bukan malah jawaban yang diinginkan yang didengar malah pegawai wanita dishub siantar yang diketahui sebagai bendahara penerima setoran jukir mengatakan kalau TMS sudah di coret sebagai jukir dan penggantinya anak dari kordinator jukir Jannes Siahaan.

” Nama bapak sudah dicoret sebagai jukir penerima bagi hasil 46% dan penggantinya anak dari kordinator bernama Jannes Siahaan,” kata TMS menirukan ucapan pegawai wanita tersebut.

Mendengar dirinya sudah dicoret sebagai penerima bagi hasil 46%, TMS dan temannya dengan rasa sedih meninggalkan kantor dishub siantar.

” Nama saya tiba-tiba sudah dicoret sebagi jukir penerima bagi hasil 46% tanpa tahu sebabnya, padahal saya masih bekerja sebagi jukir seperti biasanya dilokasi tersebut,” kata TMS.

Karna saya merasa tidak melakukan kesalahan apapun dan setoran tetap saya bayar seperti biasa Rp 260 ribu/hari. Ke esokan harinya TMS tetap bekerja dilokasi parkir tersebut, namun siang harinya istri dari Jannes Siahaan mendatangi TMS dan langsung mengatakan kalau TMS sudah dipecatnya.

” Mulai hari ini kau gak usah lagi jaga parkir disini, kau sudah saya pecat,” ucap istri Jannes siahaan ditirukan TMS.

Mendengar ucapan istri Jannes Siahaan, TMS pun dengan rasa sedih pulang kerumahnya. Merasa penasaran kamis 25/7/2019 mendatangi rumah Jannes Siahaan dan bertemu dengan istri Jannes Siahaan disitu TMS langsung menanyakan alasan apa istri TMS memecat dirinya, dengan bernada tinggi istri Jannes mengatakan kalau dirinya memecat TMS dikarenakan TMS mendatangi dan menanyakan gaji (bagi hasil) 46% tiap bulannya ke dishub siantar.

” Kenapa kau tanyakan gaji 46% ke dishub siantar, yang berhak disitu suamiku (Jannes Siahaan- red) bukan kau, ya sukakulah memecat kau,” ujar TMS kembali menirukan ucapan istri Jannes Siaahan.

Mengingat istri dari TMS sudah meninggal dunia ditambah lagi kebutuhan sehari-hari TMS dan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil TMS pun lebih memilih diam dan sembari bermohon agar istri Jannes Siahaan tetap memperbolehkannya bekerja sebagi jukir.

“Tolonglah kak, istriku sudah mati, anakku tiga masih kecil-kecil yang harus ku biayai, tolonglah kak,” ucap TMS tetap bermohon agar tidak dipecat.

Mendengar permohonan TMS, istri Jannes Siahaan langsung memperbolehkan kembali TMS bekerja sebagai jukir namun dengan catatan setoran TMS dinaikkan dari Rp 260 ribu/hari menjadi Rp 270 ribu/hari atau naik Rp 10 ribu perharinya.

” Ok ku bolehkan kau kerja lagi, tapi setoran mu jadi naik dari Rp 260/hari menjadi Rp 270/hari. kata TMS kembali menirukan ucapan istri dari Jannes Siahaan.

Dikarenakan kebutuhan sehari-hari ysng harus ditanggung sendiri oleh TMS dan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil terpaksa disanggupinya permintaan istri dari Jannes Siahaan.

Ketika dikonfirmasi via WhatsApp Minggu 4/8/2019, Kepala Dinas Perhubungan Kota Siantar, Esron Sinaga belum menjawab terkait apa yang dialami TMS hingga berita ini diturunkan ke meja redaksi.

Berdasarkan data yang dimiliki wartawan ini, kalau TMS resmi terdaftar sebagi juru parkir (jukir) sesuai dengan surat tugas No 974/19/Perhub/1/2019 dan ditanda-tangani oleh kepala dinas perhubungan kota siantar, Esron Sinaga. Tentunya melihat surat tugas diatas kalau TMS harusnya mendapat gaji (bagi hasil) 46% tiap bulannya sebesar Rp 3.588.000 (Tiga Juta Lima Ratus Delapan Puluh Delapan Ribu Rupiah) namun kenyataanya hampir 2 tahun lamanya TMS tak juga mendapat gaji. Melihat apa yang dialami TMS, publik tentunya bertanya-tanya kemana gaji (bagi hasil) 46% TMS ??? Apabila dishub siantar mengatakan kalau gaji (bagi hasil) 46% TMS dibayarkan ke Jannes Siahaan berarti parkir di siantar diduga dipihak ketigakan oleh dishub siantar. (GN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *