Kategori
Daerah Lingkungan

73 Tahun Indonesia Merdeka, Banyak Warga Desa di Sumut Belum Mendapatkan Listrik

Medan (Macannews)- Sejumlah desa di Provinsi Sumatera Utara belum teraliri listrik meskipun Indonesia sudah 73 tahun merdeka.Di antaranya, Desa Ujung Deleng, Sibolangit, Deliserdang. Selanjutnya Dusun-6 Bina Jaya/ Pematang Air, Desa Kuala, Tangjungpura, Kabupaten Langkat, dan beberapa daerah lain di Kabupaten Samosir, Kamis (16/8/2018).

Selain listrik, warga juga mengeluhkan infrastruktur jalan. Untuk menempuh desa-desa dibutuhkan waktu berjam-jam dengan melintasi jalan setapak yang rusak parah. Bahkan, pada malam hingga subuh, mereka terpaksa beraktivitas dalam gelap gulita.

“Pak Presiden Jokowi kami mohon perhatikan warga di desa terpencil ini. Memang Indonesia sudah lama merdeka. Tapi, lampu belum diterangi listrik PLN. Anak-anak selalu mengejarkan tugas subuh gunakan lampu teplok. Kadangkala rambut mereka terbakar karena terlalu dekat sama lampu,” ujar Kepala Dusun-2 Seimalem, Desa Ujung Deleng, Sibolangit, Sumarni (30)

Ia menambahkan, sudah puluhan tahun warga desa belum tersentuh penerang listrik PLN. Alhasil, tidak sedikit warga memutuskan pindah ke desa lain, sehingga tersisa puluhan kepala keluarga (KK). Apalagi, harga minyak tanah mencapai Rp 10 ribu perliternya.

Lebih lanjut, hampir seluruh dinding rumah mereka jadi gelap, serta hidup warga mengitam terkena asap dari lampu teplok. Oleh sebab itu, ia bersama puluhan warga lainnya berharap PLN segera mengalirkan listrik ke rumah mereka.

“Walaupun begitu kami sangat bersyukur Kapolrestabes Medan, Dadang Hartanto menyumbangkan duat genset. Mesin genset hidup mulai pukul 18.00 WIB sampai 00.00 WIB. Setiap rumah dapat jatah dua bola lampu,” katanya.

Permasalahan serupa dialami warga Dusun-6 Bina Jaya/Pematang Air, Desa Kuala, Tanjungpura, Langkat Ipin. Ada 18 rumah yang belum tersentuh listrik. Bahkan, sampai menaiki getek hingga melintas titi setapak untuk menuju desa itu.

Tidak hanya itu, akses jalan menuju desa masih setapak serta menelusuri perkebunan sawit. Bila musim hujan ataupun air pasang akses jalan tergenang. Dahulu, warga manfaatkan sampan untuk keluar perkampungan.

“Sulit kali pun. Kalau sudah gelap semua pasti sulit. Terkadang anak-anak ngeluh dengan kondisi yang ada ini. Semua di sini pasti terlambat. Belum merdeka kami, jadi saya belum mengibarkan bendera di depan rumah,” ujar warga Epi saat berbincang-bincang bersama macannews.

Sumber : Tribun

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *