Kategori
Daerah Hukum Kriminal

Kisah Iwan Cepi Murtado, Disebut-sebut Sebagai Pembunuh Bayaran Paling Ditakuti di Indonesia

Jakarta (Macannews)- Anda mungkin masih asing mendengar nama Iwan Cepi Murtado. Kini, Iwan tidak lebih dari seorang pria 76 tahun yang wajahnya sudah keriput dan sedang berusaha berserah diri kepada Tuhan atas segala yang telah ia perbuat saat masih muda, Kamis (2/8/2018).

Ya, Iwan punya kehidupan begitu kelam di masa lalu. Ia dulunya seorang pembunuh bayaran yang dikenal bengis saat beraksi. Malah, Iwan disebut-sebut sebagai pembunuh bayaran paling ditakuti di Indonesia.

Dalam sebuah wawancara tayangan On The Spot Trans 7 pada November 2017 lalu, Iwan menjelaskan seperti apa masa lalunya dan bagaimana ia sekarang menjalani hidup.

Sebagai informasi, Iwan adalah anak dari Murtado, seorang jawara Betawi yang dikenal dengan sebutan ‘Macan Kemayoran’. Sebelum menjadi pembunuh bayaran, Iwan pernah menjadi seorang tentara selama delapan tahun. ia kemudian memutuskan keluar karena merasa tidak disiplin.

“Kalau keluar, saya memang lupa dengan kedisiplinan saya,” kata Iwan dalam wawancara di tayangan On The Spot.

Pekerjaan sebagai pembunuh bayaran pun dilakoninya. Segala pengalamannya saat jadi tentara membuat Iwan tidak begitu kesulitan dalam menghilangkan nyawa orang lain. Dalam wawancaranya, Iwan menjelaskan bagaimana tekniknya saat mendapat orderan untuk membunuh seseorang.

Iwan selalu melakukan pengamatan terhadap calon korban selama beberapa hari, bisa sampai satu minggu. Ia mempunyai cara sendiri dalam melaksanakan tugas, tidak mau orang yang memerintahnya ikut campur untuk urusan eksekusi.

Menurut On The Spot, target Iwan biasanya adalah orang-orang kaya yang dianggap menjadi pesaing orang yang memberikan orderan.

“Itu ada satu perjanjian. Kalau saudara menyuruh saya, di lapangan jangan ikut campur,” kata dia.

Saat itu Iwan mengaku tidak memikirkan soal nyawa orang lain, yang ada di benaknya hanyalah bayaran.

“Melihat bayaran, apa yang saya pikirkan sudah tidak pikirkan lagi,” kata Iwan.

Adapun jumlah bayaran Iwan untuk sekali membunuh, harganya tidak menentu. Mulai dari Rp 2 juta hingga Rp 25 juta.

Kendati dikenal sebagai pembunuh bayaran, Iwan tidak melabeli diri dengan predikat tersebut. Menurutnya, sebutan pembunuh bayaran berasal dari teman-temannya. Ketika ditanya sudah berapa nyawa yang telah dihabisinya, Iwan enggan menjawab. Matanya langsung berkaca-kaca ketika mengingat masa kelam tersebut.

“Saya udah nggak mau mengungkap lagi. Karena yang saya kerjakan ini bukan mencuri, nyawa orang yang saya habisi, ujar Iwan.

Ketika ditanya untuk kedua kalinya oleh pewawancara soal total orang yang dibunuhnya, Iwan kembali enggan memberikan jawaban.

“Jangan ditanya lagi. Kalau saya ditanya sampai ke situ (membunuh), hati saya terenyuh,” tambahnya.

Menurut Iwan, ada satu pembunuhan yang begitu melekat di kepalanya.

“Yang paling saya ingat adalah yang terakhir, karena dia adalah seorang perempuan, perasaan saya ada, tidak teganya, karena ia perempuan, karena itulah saya menyesal,” tutur Iwan.

Kehidupan Iwan mulai berubah ketika mendekam di penjara Cipinang selama sepuluh tahun. Hal yang mengejutkan adalah ketika dipenjara Iwan begitu disegani. Malah ia mengaku menjadi pemimpin para narapidana di sana. Saat keluar penjara, Iwan mulai menata kembali hidupnya. Ia bertaubat dan menyesali segala perbuatannya.

“Apakah saya bertaubat ini ada ampunan Allah? Saya serahkan kepada Allah,” ujarnya.

Sumber : Tribun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *