Kategori
Hukum Kriminal

Wanita Cantik Asal Tebing- Tinggi Dituntut 4 Tahun Penjara Kasus Laka-Lantas

PN Simalungun(Macannews)- Wanita cantik asal Tebing-tinggi,Fia Rahmadani alias Fia (26)  terdakwa kasus laka- lantas di Jalan Umum KM. 18-19 Jurusan Pematangsiantar-Medan Nagori Dolok Kahean Kecamatan Tapian Dolok Kabupaten Simalungun di tuntut 4 Tahun Penjara di  Pengadilan Negeri(PN) Simalungun, Jumat(25/5/2018).

Jaksa Penuntut Umum (JPU), David Sipayung menegaskan terdakwa Fia Rahmadani alias Fia (26) warga Jalan KF Tandean Gang Hidayah 02 Lingkungan III Kelurahan Pasar Baru Kecamatan Tebing Tinggi Kota, Kota Tebing-tinggi dituntut 4 Tahun Penjara dikarenakan terbukti bersalah melanggar Pasal 310 ayat (4) Jo Pasal 106 ayat (1) UU RI. No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dan dakwaan kedua yakni pasal 312 UU RI. No. 22 Tahun 2009 tentang LLAJ  mengemudikan kendaraan bermotor yang karena kelalaiannya menyebabkan kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan orang lain meninggal dunia dan mengemudikan kendaraan bermotor yang terlibat kelalaian lalulintas dan dengan sengaja tidak melaporkan kecelakaan lalulintas kepada Kepolisian Republik Indonesia.

Menurut JPU, Hal yang memberatkan terdakwa yakni perbuatan terdakwa menimbulkan duka terdalam terhadap keluarga korban dan berbelit belit memberikan keterangan dalam persidangan dan tidak ada perdamaian antara terdakwa dan keluarga korban Hanafi Batubara. Sementara hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan selama dalam persidangan.

Mendengar tuntutan JPU, Terdakwa Fia Rahmadani alias Fia yang merupakan istri bandar narkoba Afin Lehu tak henti-hentinya mengeluarkan air mata mendengar tuntutan yang dibacakan kepadanya di depan majelis hakim.

Sekedar diketahui, Kasus tabrakkan itu terjadi hari Selasa (5/12/2017) lalu sekira jam18.00 Wib di Jalan Umum KM. 18-19 Jurusan Pematangsiantar-Medan Nagori Dolok Kahean Kecamatan Tapian Dolok Kabupaten Simalungun. Awalya terdakwa Fia mengemudikan mobil Honda BR-V BK 1164 NL berangkat dari Raya tujuan Tebing Tinggi melalui jalan Pematangsiantar. Setiba dilokasi kejadian (TKP), terdakwa Fia melaju kecepatan 80-100 km/jam dan jarak 5-6 meter didepan jurusanya melihat sepedamotor Yamaha Nmax BK 3035 WAF dikendarai saksi korban Hanafi Batubara.

Terdakwa akan mendahului sepedamotor tersebut sehingga sebahagian dari body mobil dikendarai terdakwa memasuki jalur berlawanan. Saat itu terdakwa melihat mobil bus ukuran sedang datang dari arah berlawanan dengan jarak 20-25 meter dari posisi kendaraan terdakwa. Melihat mobil bus ukuran sedang tersebut sudah semakin mendekat terdakwa tidak mengurangi kecepatan tetapi menambah atau setidak-tidaknya mempertahankan kecepatan sebelumnya sehingga antara mobil dikendaraai terdakwa dengan mobil bus ukuran sedang yang datang dari arah berlawanan semakin mendekat.

Melihat itu terdakwa menjadi bingung dan kehilangan konsentrasi. Menghindari terjadinya tabrakan, terdakwa mengarahkan mobil yang terdakwa kendarai ke jalur kiri (banting setir) sehingga posisi mobil dikendarai terdakwa menjadi melintang mengarah ke bahu jalan dengan posisi masih bergerak padahal terdakwa seharusnya dalam mengendarai kendaraan bermotor wajib penuh konsentrasi dan memperhatikan keadaan jalan atau setidak-tidaknya terdakwa memberikan isyarat atau tanda kepada pengendara lain karena jalur yang dilalui terdakwa adalah jalur yang ramai dilintasi kendaraan bermotor baik itu mobil maupun sepedamotor.

Karena mobil yang dikendaraai terdakwa berbelok secara tiba-tiba ke jalur siantar- tujuan medan, kemudian Sepedamotor Nmax BK 3035 WAF dikendarai Hanafi Batubara datang dari arah Pematangsiantar-medan menabrak bodi bagian tengah sebelah kiri dikendarai terdakwa. Karena mobil yang dikendarai terdakwa masih keadaan bergerak sehingga Hanafi Batubara juga terbawa sampai mobil dikendarai terdakwa berhenti karena menabrak tebing yang berada tidak jauh dari bahu jalan. Akibat kekurang hati-hatian terdakwa dalam mengemudikan kendaraan bermotor menyebabkan Hanafi Batubara meninggal dunia yang diperkuat dengan Visum et Repertum Nomor 10897/IV/UPM/XII/2017 tanggal 18 Desember 2017 diperiksa Dr. Reinhard J.D. Hutahaean, SpF, S.H, MM NIP. 19760902 200502 1 002.

Usai mendengar tuntutan JPU, Ketua Majelis Hakim Liser Berutu SH MH menunda sidang dan dibuka kembali Rabu (30/5/2018) dalam agenda Pledoi, Ucap Berutu sembari mengetuk palu. (GN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *